Novel-novel saya yang berbahasa Indonesia telah saya terjemahkan ke dalam bahasa Inggeris secara bertahap, dengan beberapa perubahan kecil termasuk judul dan cover. Sampai saat ini sudah tiga novel yang sudah diterbitkan melalui Kindle eBooks dan tersedia di Amazon, tapi hanya untuk pembaca di luar Indonesia. Bagi yang berminat mendapatkan eBook-nya silakan menghubungi saya melalui DM.
tawaddu'
mencoba mengikuti ilmu padi, kian merunduk, kian berisi.... trying to imitate the rice behaves, the more it bends, the more it fills....
Friday, April 3, 2026
Friday, June 27, 2025
Menulis Novel
Kesenangan menulis sudah saya rasakan sejak SMA, dan betapa senangnya saat tulisan-tulisan saya dimuat di harian dan majalah lokal. Tapi dengan berbagai alasan, hobi itu tidak saya teruskan, dan karena kesibukan, kesenangan menulis itu hampir terlupakan. Hingga akhirnya, pada 2009, atas saran seorang teman, saya mulai menulis lagi, di Kompasiana. Kumpulan tulisan-tulisan itu akhirnya saya buat dalam bentuk buku dan diterbitkan. Buku pertama berisi berbagai artikel singkat tentang kunjungan saya ke berbagai pelosok Nusantara, dalam rangka tugas yang diberikan kantor dimana saya bekerja. Buku yang pertama itu, dengan judul 'Indonesia am byth' berisi kumpulan artikel tentang keindahan alam Nusantara. Judulnya merupakan judul salah satu artikel dalam buku itu, yang diambil dari bahasa Wales: 'Cymru am byth' yang artinya Wales Forever. Jadi 'Indonesia am byth' berarti 'Indonesia Fovever', atau Indonesia Selamanya.
Buku kedua, dengan judul 'Dari St. Petersburgh Sampai Arafah' berisi kumpulan artikel tentang kesan-kesan saat berkunjung ke mancanegara, termasuk kisah perjalanan ritual haji pada tahun 2008. Buku ketiga merupakan perenungan tentang hubungan dengan Sang Pencipta dan kisah-kisah tentang hidup dan kehidupan beserta segala kompleksitasnya, berjudul: 'Dia Sedang Berjalan Menuju Surga', dan buku keempat berisi berbagai artikel tentang air minum, sanitasi dan lingkungan, dengan judul: 'Setetes Harapan'.
Menjelang usia senja, terbersit keinginan untuk menulis novel, tapi tidak terbayang bagaimana caranya, dari mana mulainya dan apa temanya. Pada pertengahan tahun 2024, saat usia menjelang tujuh puluh lima tahun, saya memberanikan diri menulis sebuah novel tentang derasnya gelombang pengungsi dari berbagai negara ke negeri Paman Sam atau Amerika Serikat. Novel ini terinsipirasi oleh betapa beratnya perjuangan para pengungsi tersebut, terutama saat melewati celah sempit di Panama dan Kolombia yang terkenal dengan nama Celah Darien atau Darien Gap. Besarnya arus pengungsi, terutama dari negara-negara Amerika Latin antara lain untuk mencari kehidupan yang lebih baik, karena sulitnya kehidupan di negara asalnya. Novel sudah hampir selesai, tapi bingung memilih judulnya, mula-mula berjudul 'Bisikan Cinta dari Venezuela', karena ada jalinan cinta antara para pelaku dalam novel tersebut, tapi kemudian diganti menjadi 'Teror Senor Grande' karena dirasa lebih sesuai. Kesulitan dalam menulis novel antara lain dalam merancang tema, dengan menggunakan latar belakang situasi sebenarnya, tapi tetap berpegangan pada logika. Ini yang menyebabkan penyelesaian novel itu menjadi molor, dan tersusul oleh novel kedua berjudul 'Kepak Sayap dari Tanah Wasur' yang kemudian terbit lebih awal. Novel ini bercerita tentang anak muda Papua dan Papua Nugini yang memiliki cita-cita yang tinggi, dan dengan perjuangan yang tanpa henti, akhirnya mereka berhasil menggapai cita-cita.
Thursday, April 4, 2024
2024 World Press Photo Contest
Kali ini saya tidak menulis artikel, melainkan mengunggah video tentang World Press Photo Contest 2024 dari perspektif juri yang berasal dari berbagai belahan dunia, dengan menampilkan foto-foto yang memenangkan kontes foto tersebut dalam berbagai kategori. Salah satu pemenangnya adalah adalah foto yang berasal dari Indonesia, yaitu "Pollution in the Cileungsi River" oleh Arie Basuki, yang memenangkan kategori Honorable Mention. Cukup membanggakan karena foto ini terpilih dari lebih 61.000 entry.
Video ini diunggah di YouTube oleh World Press Photo Foundation pada tanggal 3 April 2024.
Inilah para global juri dari World Press Photo Contest 2024: * Africa jury chair: Nii Obodai, Ghana, photographer * Asia acting jury chair: Elyor Nemat, Uzbekistan, documentary photographer, filmmaker, and graphic artist * Europe jury chair: Anastasia Taylor-Lind, United Kingdom/Sweden, photojournalist * North and Central America jury chair: John Minchillo, United States, staff photojournalist, the Associated Press * South America jury chair: Julieta Escardó, Argentina, photographer, editor and educator * Southeast Asia and Oceania jury chair: Veejay Villafranca, Philippines, photographer and lecturer — 📽️ Chapters: 00:00 - Intro 00:18 - Africa 00:58 - Africa, Singles: ‘Returning Home From War’ by Vincent Haiges, Real 21 01:51- Africa, Stories: ‘Valim-babena’ by Lee-Ann Olwage, for GEO 02:37 - Africa, Long-Term Projects: ‘The Escape’ by Zied Ben Romdhane, Magnum Photos, Arab Fund for Arts and Culture, AIM LAB 03:36 - Africa, Open Format: ‘Adrift’ by Felipe Dana and Renata Brito, Associated Press 04:33 - Africa, Honorable Mention: ‘Survivors’ by Arlette Bashizi, for The Washington Post 05:05 - Asia 05:40 - Asia, Singles: ‘A Palestinian Woman Embraces the Body of Her Niece’ by Mohammed Salem, Reuters 06:47 - Asia, Stories: ‘Afghanistan on the Edge’ by Ebrahim Noroozi, Associated Press 07:46 - Asia, Long-Term Projects: ‘I Am Still With You’ by Wang Naigong 08:54 - Asia, Open Format: ‘Heartstrings’ by Kazuhiko Matsumura, for The Kyoto Shimbun 09:39 - Asia, Honorable Mention: ‘The Edge’ by Zishaan A Latif 10:18 - Europe 10:33 - Europe, Singles: ‘A Father’s Pain’ by Adem Altan, Agence France-Presse 11:22 - Europe, Stories: ‘Kakhovka Dam: Flood in a War Zone’ by Johanna Maria Fritz, Ostkreuz, for Die Zeit 12:15 - Europe, Long-Term Projects: ‘No Man’s Land’ by Daniel Chatard 13:15 - Europe, Open Format: ‘War Is Personal’ by Julia Kochetova, 14:29 - Europe, Honorable Mention: ‘Looking for Satyrus’ by Rena Effendi, VII Photo, National Geographic Society 15:14 - North and Central America 15:38 - North and Central America, Singles: ‘A Day in the Life of a Quebec Fire Crew’ by Charles-Frédérick Ouellet, for The Globe and Mail, CALQ 16:12 - North and Central America, Stories: ‘Saving the Monarchs’ by Jaime Rojo, for National Geographic 16:47 - North and Central America, Long-Term Projects: ‘The Two Walls’ by Alejandro Cegarra, The New York Times/Bloomberg 18:06 - North and Central America, Open Format: ‘The Gay Space Agency’ by Mackenzie Calle 19:14 - North and Central America, Honorable Mention: ‘The First Climate Refugees of the United States’ by Sandra Mehl 19:58 - South America 20:31 - South America, Singles: ‘Drought in the Amazon’ by Lalo de Almeida, for Folha de São Paulo 21:16 - South America, Stories: ‘Red Skies, Green Waters’ by Adriana Loureiro Fernandez, for The New York Times 22:12 - South America, Long-Term Projects: ‘Mapuche: The Return of the Ancient Voices’ by Pablo E. Piovano, Greenpeace Award, GEO, National Geographic Society 23:35 - South America, Open Format: ‘Silenced Crimes’ by Marco Garro, Pulitzer Center 24:36 - South America, Honorable Mention: ‘Insurrection’ by Gabriela Biló, for Folha de São Paulo 24:58 - Southeast Asia and Oceania 25:25 - Southeast Asia and Oceania, Singles: ‘Fighting, Not Sinking’ by Eddie Jim, The Age/Sydney Morning Herald 26:08 - Southeast Asia and Oceania, Stories: ‘Battle for Sovereignty’ by Michael Varcas, for The Philippine Star 26:49 - Southeast Asia and Oceania, Long-Term Projects: ‘Revolution in Myanmar’ by Ta Mwe, Sacca Photo, VII Foundation, Frontline Club, W. Eugene Smith Grant 28:12 - Southeast Asia and Oceania, Open Format: ‘A Lost Place’ by Aletheia Casey 29:16 - Southeast Asia and Oceania, Honorable Mention: ‘Pollution in the Cileungsi River’ by Arie Basuki 📸 See all the winning photos and stories: https://www.worldpressphoto.org/
Monday, December 12, 2022
Sunday, November 1, 2020
Surat Terbuka untuk Presiden Jokowi
Yth. Bapak Ir. H. Joko Widodo, Presiden Republik Indonesia.
Saya memberanikan diri menulis surat terbuka ini untuk Bapak Jokowi dengan harapan Bapak sempat membacanya, dan mempertimbangkan beberapa masukan dari saya. Saya adalah pensiunan PNS (ASN), mengambil pensiun dini pada tahun 2000 setelah 19 tahun bekerja dan kemudian bergabung dengan salah satu lembaga internasional, tinggal di Jakarta. Sejak lulus dan bekerja, sampai pensiun sekarang ini, perhatian saya tidak lepas dari masalah air minum. Di bawah kepemimpinan Bapak, infrastruktur jalan tol, pelabuhan laut, bandara dan sarana transportasi lainnya dibangun dimana-mana, tapi masalah air minum masih saja berjalan ditempat dan tertinggal dari infrastruktur lainnya, padahal air minum adalah salah satu kebutuhan dasar manusia, dan bahkan PBB sudah mengakui (acknowledge) bahwa air merupakan hak asasi manusia (Resolusi PBB No 64/292 tahun 2010).
Menurut data dari Bappenas, pada tahun 2018, akses air minum layak di Indonesia adalah 87,75%, terdiri dari akses perpipaan (20,14%) dan akses non-perpipaan (67,62%), dimana akses amannya adalah 6,8% (Bappenas, 2019). Dari sumber yang sama, target air minum aman pada tahun 2030 adalah 43,15%, sedangkan target akses aman sesuai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) pada tahun 2030 adalah 100%. Akses aman adalah dimana air dapat diminum langsung dengan aman, sesuai Permenkes 492/2010. Ini jelas tantangan yang tidak mudah untuk dicapai, apalagi dengan kondisi infrastruktur air minum, terutama sistem perpipaan, yang selalu menghadapi masalah yang sama dari tahun ke tahun, dari generasi ke generasi. Tanpa ada upaya terobosan yang “out-of-the box”, target-target tersebut akan sulit tercapai.
Masalah dan kendala dalam pengelolaan air minum sebenarnya sudah banyak diketahui, dan langkah-langkah untuk mengatasinya sudah banyak dilakukan. Sebagai seorang yang sudah mengalami dan melalui beberapa generasi pemerintahan, saya merasakan sendiri betapa tidak mudahnya mengatasi masalah air minum di negeri ini. Rekan-rekan senior saya sejak lama sudah mengangkat isu air minum ini sampai ke tingkat Wapres Adam Malik waktu itu, tapi permasalahannya selalu berputar-putar di situ-situ juga, antara kewenangan daerah sesuai UU 23/2014 dan daerah yang kurang peduli; dari kemampuan daerah yang selalu (mengaku) terbatas sampai banyaknya K/L di pusat yang mengatur masalah air minum. Sebenarnya sudah banyak upaya yang dilakukan pemerintah untuk memperbaiki kondisi per-air minuman, seperti restrukturisasi utang daerah dan PDAM, investasi besar-besaran dari pemerintah pusat dalam rangka tugas konkuren, sampai mobilisasi sumber-sumber dana non publik. Bahkan Wapres Jusuf Kalla pernah mencanangkan program satu juta sambungan rumah, tapi hasilnya belum dirasakan optimal.
Akar permasalahan sektor air minum, khususnya di perkotaan, menurut pendapat saya, adalah jumlah pengelola air minum (BUMD Air Minum/PDAM/KPBU) yang terlalu banyak, karena mengikuti jumlah kabupaten/kota, tapi dengan jumlah pelanggan di masing-masing kabupaten/kota yang sedikit, di bawah ambang batas dimana skalanya terlalu kecil untuk dikelola secara ekonomis (economies-of-scale). Idealnya, jumlah pelanggan minimum secara ekonomis di setiap unit pengelola adalah 50 ribu keatas. Saat ini, sekitar 400an kota/kabupaten memiliki unit pengelola dengan total 10 juta pelanggan. Jumlah kabupaten/kota dengan pelanggan di atas 50 ribu hanya sekitar 36, termasuk beberapa kota besar/metropolitan, dengan jumlah pelanggan di atas 200 ribu, selebihnya memiliki jumlah pelanggan antara di bawah seribu sampai 49 ribu dengan rata-rata 13 ribu pelanggan per kabupaten/kota. Apapun upaya yang dilakukan, berapapun tarif yang akan diberlakukan, secara ekonomis pengelolaan air minum dengan pelanggan seperti itu tidak efisien dan akan selalu merugi. Data dari Kementerian PUPR menunjukan bahwa dari 380 BUMD Air Minum yang dievaluasi kinerjanya pada 2019, yang berkinerja rendah (“sakit” dan “kurang sehat) adalah 41% dan yang “sehat” 59%, meskipun kriteria “sehat”-nya patut dipertanyakan.
Dengan logika sederhana, sebenarnya jumlah unit pengelola bisa dikurangi tanpa mengurangi kewenangan dan otonomi daerah, yaitu dengan cara penggabungan melalui kerjasama antar daerah, bisa penggabungan pada tingkat provinsi, regional, bahkan pulau atau antar pulau. Misalnya unit pengelola unit Pulau Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, NTB/NTT, Maluku/Maluku Utara dan Papua (Papua dan Papua Barat). Pola-pola kelembagaan ini sudah dilakukan pada perbankan daerah, dengan kepemilikan bersama antara provinsi dan kabupaten/kota. Tabel berikut memperlihatkan jumlah pelanggan di pulau-pulau tersebut (diluar kota besar/metro dengan jumlah pelanggan diatas 200 ribu) pada tahun 2012-2013, saat ini angka-angka tersebut mungkin sudah berubah:
Pulau Sumatera: 1,8 juta (diluar Medan dan Palembang)
Pulau Jawa: 3,8 juta (diluar DKI Jakarta dan Surabaya)
Pulau Kalimantan: 1 juta
Pulau Bali: 400 ribu
NTB dan NTT: 300 ribu
Maluku dan Maluku Utara: 66 ribu
Papua dan Papua Barat: 44 ribu (atas alasan geografis dan politis, barangkali Papua dan Papua Barat tetap memiliki satu unit pengelola, meskipun jumlah pelanggannya di bawah 50 ribu).
Pola di atas hanya salah satu dari beberapa opsi yang perlu dikembangkan lebih lanjut. Penggabungan dimungkinkan dengan telah terbitnya Permendagri 22/2020 yang mengatur kerjasama daerah dengan daerah lain (KSDD), dimana KSDD yang dilaksanakan oleh 2 (dua) atau lebih Daerah yang berbatasan untuk penyelenggaraan pemerintahan yang memiliki eksternalitas lintas Daerah dan penyediaan layanan publik yang lebih efisien jika dikelola bersama, sifatnya wajib.
Dalam UU Cipta Kerja (versi 1052 halaman) saya mencatat ada dua pasal (Pasal-pasal 19 dan 51) dalam UU Sumber Daya Air yang diubah dalam UU Cipta Kerja, dimana keduanya terkait dengan penerbitan Peraturan pemerintah (PP) tentang ketentuan BUMN/BMUD dalam pengelolaan SDA dan tentang perizinan berusaha untuk penggunaan SDA. Saya berharap kedua PP yang akan diterbitkan tersebut terkait juga dengan upaya pengelolaan air minum yang “out-of-the box”, dan tidak terjebak ego sektor maupun ego kedaerahan yang sempit. Untuk melaksanakannya, saya menyadari hal ini tidak mudah, dan perlu waktu, tapi di bawah kepemimpinan Bapak, saya percaya pembantu-pembantu Bapak dapat menyusun formulasi yang tepat dan berdampak positif bagi perkembangan per-air minuman di Indonesia.
Saya juga percaya bahwa di bawah kepemimpinan Bapak Jokowi tidak ada yang tidak mungkin untuk diperbaiki, sepanjang menyangkut kepentingan rakyat banyak. Di usia yang ke 71 hari ini (31 Oktober 2020), saya hanya bisa mendo’akan semoga Bapak diberikan kesehatan untuk bisa memimpin negeri ini sampai tahun 2024.
Sunday, March 16, 2014
Hegemoni Raksasa Bisnis Air Kemasan: Bagaimana Menghadapinya?
Sunday, October 27, 2013
Solzhenitsyn
![]() |
| Alexandr Solzhenitsyn, 1974 (Wikipedia) |




