Kesenangan menulis sudah saya rasakan sejak SMA, dan betapa senangnya saat tulisan-tulisan saya dimuat di harian dan majalah lokal. Tapi dengan berbagai alasan, hobi itu tidak saya teruskan, dan karena kesibukan, kesenangan menulis itu hampir terlupakan. Hingga akhirnya, pada 2009, atas saran seorang teman, saya mulai menulis lagi, di Kompasiana. Kumpulan tulisan-tulisan itu akhirnya saya buat dalam bentuk buku dan diterbitkan. Buku pertama berisi berbagai artikel singkat tentang kunjungan saya ke berbagai pelosok Nusantara, dalam rangka tugas yang diberikan kantor dimana saya bekerja. Buku yang pertama itu, dengan judul 'Indonesia am byth' berisi kumpulan artikel tentang keindahan alam Nusantara. Judulnya merupakan judul salah satu artikel dalam buku itu, yang diambil dari bahasa Wales: 'Cymru am byth' yang artinya Wales Forever. Jadi 'Indonesia am byth' berarti 'Indonesia Fovever', atau Indonesia Selamanya.
Buku kedua, dengan judul 'Dari St. Petersburgh Sampai Arafah' berisi kumpulan artikel tentang kesan-kesan saat berkunjung ke mancanegara, termasuk kisah perjalanan ritual haji pada tahun 2008. Buku ketiga merupakan perenungan tentang hubungan dengan Sang Pencipta dan kisah-kisah tentang hidup dan kehidupan beserta segala kompleksitasnya, berjudul: 'Dia Sedang Berjalan Menuju Surga', dan buku keempat berisi berbagai artikel tentang air minum, sanitasi dan lingkungan, dengan judul: 'Setetes Harapan'.
Menjelang usia senja, terbersit keinginan untuk menulis novel, tapi tidak terbayang bagaimana caranya, dari mana mulainya dan apa temanya. Pada pertengahan tahun 2024, saat usia menjelang tujuh puluh lima tahun, saya memberanikan diri menulis sebuah novel tentang derasnya gelombang pengungsi dari berbagai negara ke negeri Paman Sam atau Amerika Serikat. Novel ini terinsipirasi oleh betapa beratnya perjuangan para pengungsi tersebut, terutama saat melewati celah sempit di Panama dan Kolombia yang terkenal dengan nama Celah Darien atau Darien Gap. Besarnya arus pengungsi, terutama dari negara-negara Amerika Latin antara lain untuk mencari kehidupan yang lebih baik, karena sulitnya kehidupan di negara asalnya. Novel sudah hampir selesai, tapi bingung memilih judulnya, mula-mula berjudul 'Bisikan Cinta dari Venezuela', karena ada jalinan cinta antara para pelaku dalam novel tersebut, tapi kemudian diganti menjadi 'Teror Senor Grande' karena dirasa lebih sesuai. Kesulitan dalam menulis novel antara lain dalam merancang tema, dengan menggunakan latar belakang situasi sebenarnya, tapi tetap berpegangan pada logika. Ini yang menyebabkan penyelesaian novel itu menjadi molor, dan tersusul oleh novel kedua berjudul 'Kepak Sayap dari Tanah Wasur' yang kemudian terbit lebih awal. Novel ini bercerita tentang anak muda Papua dan Papua Nugini yang memiliki cita-cita yang tinggi, dan dengan perjuangan yang tanpa henti, akhirnya mereka berhasil menggapai cita-cita.


