Sunday, March 16, 2014

Hegemoni Raksasa Bisnis Air Kemasan: Bagaimana Menghadapinya?

Catatan: Artikel ini sebenarnya diajukan untuk diterbitkan pada majalah ilmiah populer bidang manajemen,bisnis dan akuntansi asuhan Kwik Kian Gie, tapi entah mengapa, sesuai informasi yang saya terima dari Pak Satrio Arismunandar, koordinator penerbitan, majalah tersebut tidak jadi terbit. Saya sendiri sudah lupa kapan saya mengirim artikel tersebut, tapi agar tulisan ini tidak mengendap di laci meja, saya putuskan untuk saya muat disini. Artikel yang sama juga saya muat di blog Kompasiana. Semoga bermanfaat.
Bisnis air kemasan adalah bisnis yang menguntungkan dan saat ini dikuasai oleh perusahaan-perusahaan raksasa. Namun, kini ada alternatif bagi konsumen, ketika muncul bisnis dengan modal relatif kecil, yang menawarkan berbagai peralatan pengolah air agar layak minum dengan harga terjangkau.

            Hari gini, siapa yang tidak minum air kemasan? Semua orang mengonsumsinya, mulai dari tukang becak dan sopir taksi sampai direksi perusahaan dan pejabat pemerintah, yang sedang rapat di ruangan berpendingin udara. Keberadaan air kemasan memang sudah menjadi pemandangan biasa dan wajar. Hampir semua lapisan masyarakat menggunakannya untuk keperluan sehari-hari, baik dalam pertemuan arisan ibu-ibu maupun acara piknik keluarga di kebun binatang. Bahkan di sebagian rumah kita masing-masing, air kemasan selalu siap untuk menghapus dahaga.
            Apanya yang salah dengan minum air kemasan? Tampaknya tidak ada yang salah. Tetapi menurut saya, ada yang tidak beres. Air adalah kebutuhan dasar bagi setiap makhluk hidup. Kita sebagai manusia bisa tidak makan satu sampai dua minggu, tapi tak akan kuat tidak minum dalam beberapa hari. Sekitar 60 persen bobot tubuh manusia terdiri dari cairan, dalam bentuk aliran darah dan cairan dalam otak. Apabila manusia tidak minum dalam beberapa hari, akan terjadi dehidrasi, artinya keseimbangan cairan dalam badan akan terganggu karena air yang keluar lebih banyak dari yang masuk. Akibatnya bisa fatal. Pada tingkat yang sudah sangat berat, dehidrasi bisa berujung pada penurunan kesadaran, koma, hingga berakhir dengan kematian.
            Nah, sebagai kebutuhan dasar, air minum seharusnya mudah didapat dan terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa kecuali. Saat ini air minum memang mudah didapat. Antara lain melalui air kemasan, karena air yang disalurkan perusahaan air minum (PAM) umumnya belum layak minum.
Tapi apakah harganya terjangkau oleh semua orang? Satu botol air kemasan harganya berpuluh-puluh kali lipat harga air minum dari PAM. Untuk satu liter air kemasan yang harganya sekitar tiga ribu rupiah, harga satu meter kubiknya adalah tiga juta rupiah. Bandingkan dengan harga air PAM yang tidak sampai Rp 5.000 per m3. Tapi masyarakat tidak punya pilihan lain, karena air PAM belum layak minum, atau harus dimasak dulu sebelum bisa diminum. Dan, meskipun terasa berat, terpaksa membeli air kemasan atau air isi ulang,yang kualitasnya mungkin meragukan.
Tidak usah membandingkan jauh-jauh. Di negara tetangga Singapura saja, mereka bisa minum air langsung dari keran. Air kemasan mereka beli hanya untuk keperluan tertentu, misalnya, sewaktu dalam perjalanan. Artinya, masyarakat di Singapura punya pilihan. Sedangkan kita, tidak. Itulah masalahnya. Namun, benarkah kita tidak punya pilihan lain? Sebenarnya ada, tapi mungkin belum banyak yang mengetahuinya, atau lebih tepatnya, belum banyak yang menyadarinya.
Hegemoni Para Raksasa
            Tahun 1970-an, pada saat perusahaan air minum kemasan, atau juga sering disebut air mineral, mulai merintis bisnisnya, banyak yang mencibir atau melihatnya dengan sebelah mata. Sekarang situasinya berbeda, air kemasan menjadi booming, apalagi setelah perusahaan tersebut diakuisisi oleh perusahaan ternama dari luar pada 1998. Bisnis ini meraksasa dan memicu perusahaan-perusahaan lain untuk terjun di bisnis sejenis, dan ternyata laris manis di pasaran.
Sekitar 16 tahun yang lalu, penulis pernah membuat kajian singkat tentang bisnis ini. Pada waktu itu (1997), sudah lebih dari seratus perusahaan sejenis yang terdaftar, bahkan ada yang berdomisili di Papua. Sekarang jumlahnya mungkin sudah berlipat-lipat. Kecenderungan yang ada memang demikian. Pengguna air kemasan di dunia ini meningkat dari tahun ke tahun.
Pada 2009, konsumsi air kemasan adalah 13 miliar liter, dan pada tahun berikutnya (2010) menjadi 14,5 miliar liter (Viva News, November 2010). Padahal, air kemasan juga bukan tidak bermasalah. Botol atau wadah plastik yang digunakan air kemasan, apabila terkena sinar matahari cukup lama, misalnya, pada saat diangkut dengan truk terbuka, akan membentuk bahan kimia Bisphenol A yang berbahaya bagi kesehatan.
Bisnis air kemasan memang menggiurkan. Cukup dengan modal Rp 200-300 juta untuk membeli peralatan pengolah air dengan proses ultrafiltrasi atau reverse osmosis, apabila bisa mempertahankan margin sebesar Rp 500 saja per dus untuk penjualan 1.000 dus sehari, seorang pemodal bisa mengharapkan modalnya kembali dalam waktu kurang dari setahun. Bisa dibayangkan besarnya keuntungan yang diperoleh para pemodal besar dan perusahaan raksasa yang menguasai bisnis air di Indonesia. Dan yang lebih menyakitkan, sebagian besar dari keuntungan itu mengalir ke kantong-kantong pengusaha dari luar negeri.
Lengkap sudah penderitaan kita. Masyarakat yang tinggal di tempat kelahirannya sendiri, di mana airnya dikenal banyak melimpah ruah, tetapi terpaksa mati kehausan karena tidak mampu membeli air yang layak minum. Pertanyaannya, apakah tepat apabila komoditas yang menjadi hajat hidup rakyat banyak, dan bahkan menentukan hidup dan matinya seseorang, dikelola secara bisnis murni? Rasanya kok tidak, tapi kita sendiri tidak sanggup menghadapinya, apalagi melawannya.
            Perkembangan yang terjadi akhir-akhir ini cukup menarik untuk diamati. Daripada menjual air dalam botol, apakah tidak sebaiknya menjual alat yang bisa menghasilkan air dengan kualitas yang sama, dengan sumber yang ada di sekitar kita? Inilah yang dilakukan beberapa pemodal yang jeli melihat peluang. Dimulai dari jenis yang canggih, dengan harga belasan sampai puluhan juta rupiah, sekarang sudah ada alat yang harganya di bawah satu juta rupiah. Tapi tetap saja masih dirasakan mahal bagi sebagian besar masyarakat, terutama apabila pengguna harus mengganti catridge secara berkala dengan harga yang tidak murah juga.
            Berangkat dari pemikiran bahwa air adalah kebutuhan dasar manusia untuk mempertahankan hidupnya dan memelihara kesehatannya, penulis berpendapat, air minum mestinya harus mudah didapat dan terjangkau oleh masyarakat dari semua lapisan, termasuk masyarakat yang kurang  mampu sekalipun. Hal ini karena sebagaimana diputuskan dalam konvensi Sidang Umum PBB pada 28 Juli 2010, air merupakan hak asasi manusia.
Idealnya, air yang dikelola dan didistribusikan oleh perusahaan-perusahaan milik daerah itulah yang mestinya menjadi pilihan. Tapi dari lebih 400 perusahaan daerah yang tersebar di 33 provinsi, termasuk perusahaan-perusahaan yang dikelola swasta dalam/luar negeri melalui kerjasama pemerintah dan swasta (KPS), yang memiliki reputasi bagus dalam pelayanan air minum kepada masyarakat kurang dari jumlah jari tangan.
Dari jumlah yang sedikit itu, tidak ada satu pun yang berani menyatakan bahwa air yang dihasilkannya dapat langsung diminum di rumah masing-masing pelanggan. Dan stigma yang sudah kuat melekat sebagai pengelola jasa pelayanan yang buruk, sangat sulit untuk dihilangkan. Dengan setumpuk masalah utang dan kebocoran yang tinggi, serta cakupan pelayanan yang masih terbatas, pengelola jasa pelayanan masyarakat ini dibuat tidak berdaya. Inilah kenyataan pahit yang mau tidak mau harus kita hadapi.
Penggunaan Saringan Keramik
Sampai kapan kita harus menunggu hingga perusahaan-perusahaan milik daerah itu menjadi lebih baik kinerjanya untuk bisa memproduksi dan mendistribusikan air layak minum? Sanggupkah kita menunggu sementara kerongkongan kita mengering kehausan? Tentu tidak. Kita harus berbuat sesuatu. Hegemoni raksasa bisnis air kemasan ini harus kita lawan. Tidak secara frontal tentu saja, tapi dengan membangun kesadaran bahwa air adalah kebutuhan dasar yang telah menjadi hak asasi manusia, dan seharusnya tidak dikomersialkan.
Sebenarnya kita punya pilihan lain selain menggunakan air kemasan. Salah satu pilihan yang sedang penulis gagas dan tekuni adalah penggunaan saringan keramik sebagai alat pengolah air tingkat rumah tangga, atau yang oleh kalangan akademisi dan para peneliti dikenal sebagai point-of-use treatment.     
Sejak 2008, penulis mulai mempelajari, meneliti dan kemudian mencoba memproduksi saringan keramik. Ternyata tidak terlalu sulit untuk membuatnya. Saringan keramik adalah teknologi pengolahan air yang sudah dikenal sejak lama. Tahun 1827, Henry Doulton, pewaris pabrik keramik dari ayah dan kakek buyutnya mencoba membuat saringan yang terbuat dari lempung untuk mengolah air sungai Thames di London yang tercemar berat. Ternyata hasilnya sangat menggembirakan. Saringan keramik buatannya bisa menghilangkan bakteri penyebab penyakit perut dengan efisiensi penghilangan sebesar 99,88%.
Sejak Dr. Fernando Mazariegos dari Guatemala membuat versi yang lebih sederhana pada 1981, saringan keramik kemudian dikenal sebagai teknologi yang tepat guna, dan banyak digunakan di negara-negara berkembang. Perintis saringan keramik di negara-negara berkembang di Asia, Afrika, dan Amerika Latin di antaranya adalah Ron Rivera dari Potter for Peace (PfP) dan Mickey Sampson dari Resource Development International – Cambodia (RDIC). Lembaga internasional non-pemerintah yang sampai saat ini aktif dalam mempromosikan saringan keramik antara lain adalah Potter Without Border (PwB) yang berkedudukan di Kanada.
             Lempung dan sekam padi adalah bahan dasar untuk membuat saringan keramik. Lempung banyak terdapat di Indonesia, demikian pula halnya dengan sekam padi. Semuanya ada di sini. Dengan sedikit sentuhan teknologi, serta ketekunan dalam melakukan uji coba, saringan keramik bisa dibuat oleh siapa saja. Dengan menggunakan rancangan dari RDIC, penulis membuat saringan keramik pada tahun 2008.
Dari pengalaman penulis memproduksi saringan keramik, diperlukan modal dasar sekitar Rp 200 sampai 250 juta untuk membuat pabriknya. Saringan keramik yang penulis produksi dijual dengan harga Rp 150 ribu untuk tipe Basic, dan Rp 250 ribu untuk tipe Superior. Dengan marjin sebesar Rp 50 – 100 ribu per unit untuk penjualan 500 unit per bulan, modal sudah bisa kembali dalam beberapa tahun saja.
Dari perhitungan di atas kertas, bisnis ini memang tampak menarik, tapi bukan berarti tanpa kendala. Kendala yang pertama dan paling utama adalah kepercayaan masyarakat terhadap produk dalam negeri. Dengan menggunakan bahan lokal dan teknologi tepat guna, serta dengan harganya yang relatif murah, masyarakat masih belum terlalu percaya bahwa alat sederhana ini, tanpa menggunakan listrik dan tanpa media penyaring, ternyata bisa menghasilkan air layak minum. Kendala ini mestinya bisa diatasi dengan memperkenalkan produk, dengan segala kelebihan (dan kekurangannya), kepada masyarakat luas.
Penulis merasa bersyukur dan berterimakasih kepada Yayasan Inovasi Teknologi (Inotek – www.inotek.org), karena dengan bantuan hibah yang mereka telah berikan, produk saringan keramik, yang penulis beri nama Tirta Cupumanik (TCM) sudah mulai dikenal orang, meskipun masih terbatas di Jakarta dan sekitarnya.
Kendala yang kedua adalah masalah pengangkutan. Saringan ini terbuat dari keramik yang rentan pecah dan rawan untuk dikirim ke tempat yang jauh. Untuk mengatasi kendala ini, franchising merupakan cara yang paling tepat. Dengan sistem franchising, pemodal di daerah yang memiliki potensi lempung dapat membuat pabriknya di tempat, dengan sistem bagi hasil. Pemodal akan mendapatkan teknologi yang diperlukan, dengan membayar  fee yang didapatkan dari marjin keuntungan. Bantuan teknologi diperlukan untuk menjaga kualitas produk yang dihasilkan. Penyebaran produk pembuatan saringan keramik juga akan menghidupkan sentra-sentra keramik di daerah yang pada akhirnya akan menyerap tenaga kerja setempat.
Tidak bisa dipungkiri, dengan adanya saringan keramik ini, pihak-pihak yang sudah membuka bisnis air kemasan di beberapa daerah akan merasa terganggu dan tersaingi. Tapi kita serahkan saja kepada pasar, mudah-mudahan sebagian dari mereka ada yang tertarik dan berpindah ke bisnis saringan keramik. Pembuatan saringan keramik sebagai teknologi tepat guna merupakan public domain yang termasuk dalam paten sederhana. Yang diperlukan kedepan adalah adanya Standar Nasional Indonesia (SNI) dalam pembuatan saringan keramik, agar produknya dapat dipertanggungjawabkan secara teknis.
Tahun 2013 adalah tahun kelima sejak penulis memulai gagasan pembuatan saringan keramik TCM. Dengan produksi yang masih terbatas (sekitar 100 unit per bulan), saringan keramik TCM sudah digunakan di beberapa tempat di Jakarta dan sekitarnya, serta secara terbatas di beberapa kota di Jawa Tengah, Bali, Sumatera Barat dan NTT.
Saringan keramik sebagai alat pengolah air tingkat rumah tangga merupakan langkah kecil menghadapi hegemoni raksasa bisnis air kemasan. Diharapkan langkah kecil ini bisa menjadi langkah awal untuk satu lompatan besar ke depan, sehingga lebih banyak lagi masyarakat yang bisa memenuhi rasa dahaganya dengan cara yang mudah dan terjangkau, dan tidak lagi tergantung pada air kemasan atau air isi ulang. ***

Risyana (Ris) Sukarma, Ketua Umum Yayasan Tirta Indonesia Mandiri, penggagas dan penggiat saringan keramik untuk pengolahan air tingkat rumah tangga (rissukarma@yahoo.com). Mengelola situs: www.tirtacupumanik.com.





Sunday, October 27, 2013

Solzhenitsyn

Alexandr Solzhenitsyn, 1974 (Wikipedia)

Sewaktu jalan-jalan di Rotterdam, bulan Maret 1980, saya menemukan sebuah buku yang isinya merupakan catatan bergambar (pictorial record) Solzhenitsyn, seorang penulis Rusia pemenang hadiah Nobel bidang Literatur tahun 1970. 

Solzhenitsyn, atau nama lengkapnya Alexandr Isayevich Solzhenitsyn, lahir di Kislovodsk (sekarang namanya Stravopol) di Rusia pada 11 Desember 1918 dan meninggal 3 Agustus 2008. Semasa hidupnya dia dikenal sebagai pengkritik kebijakan totalitarianisme komunis yang tidak kenal lelah. Melalui buku-bukunya, antara lain The Gulag Archipelago dan One Day in the Life of Ivan Denisovich, dia memperkenalkan kepada dunia sistem gulag dan kamp kerja paksa. Gulag adalah agen pemerintah Rusia (pada waktu itu masih bernama Uni Sovyet) pada era Stalin, yang menerapkan sistem kamp kerja paksa di seluruh negeri. Karena kritik-kritiknya pada pemerintahan Stalin waktu itu, melalui korespondensi dengan temannya, dia ditangkap dan dimasukkan dalam kamp kerja paksa selam delapan tahun.

Buku bersampul merah yang saya temukan di Rotterdam 33 tahun yang lalu itu baru-baru ini saya baca kembali. Buku ini merupakan catatan pribadi tentang kehidupannya semasa kecil dan pengalamannya saat ditangkap dan masuk kamp kerja paksa, serta tentang buku-bukunya. Ayahnya meninggal setengah tahun sebelum dia lahir, dan dia dibesarkan oleh ibunya dalam keadaan yang sangat sederhana. Sejak kecil dia memang bercita-cita untuk menjadi penulis. Sewaktu berumur tigapuluhan, tidak ada satupun tulisan-tulisannya yang diterima oleh penerbit manapun.

Yang menarik, sewktu dia ditangkap oleh atasannya (waktu itu dia diangkat sebagai komandan artileri, berpangkat kapten, setelah melalui kursus singkat artileri bulan November 1942), dia malah diberi selamat, sesuatu hal yang menurut dia sangat janggal, karena ucapan selamat kepada "musuhnya". "I wish you happiness, Captain!" kata atasannya. Pada saat di dalam kamp itulah dia mulai menulis dan membuat puisi, semuanya berisi kritikan pada pemerintahan komunis yang menurut dia sangat totaliter.

Dia dibebaskan dari kamp pada tahun 1956 dan menjadi pengajar di sekolah menengah pada siang hari, dan menyelesaikan tulisan-tulisannya, secara diam-diam, di malam hari. Pada waktu penerimaan hadiah Nobel, dia mengatakan "selama bertahun-tahun sampai tahun 1961, tidak saja saya yakin bahwa saya tidak akan melihat satu barispun dari tulisan saya akan dicetak, tapi juga, saya jarang berani membolehkan teman-teman dekat saya membaca tulisan-tulisan saya karena saya takut akan ketahuan". 

Meskipun dia sudah bebas, tidak mudah baginya untuk menerbitkan tulisan-tulisannya, karena Union Writers tidak menyetujuinya. Pada tahun 1964, setelah Krushchev tidak lagi memimpin, suasana represif kembali terasa, penerbitan karya-karya Solzhenitsyn berhenti, dan sebagai penulis, dia dianggap non-person, warganegara yang kehilangan status sosial. KGB menyita semua tulisan-tulisannya, dan ini membuatnya sangat menderita dan ketakutan. Baru pada tahun 1969, setelah Union Writers membebaskan semua tulisan-tulisannya untuk dipublikasikan, dia bisa merasa lega. Tahun 1970 dia mendapat hadiah Nobel, tapi dia tidak bisa menerimanya sendiri karena dia takut tidak bisa kembali ke Uni Sovyet. Baru pada tahun 1974 dia menerima langsung hadiahnya pada upacara di Stockholm, setelah dia dikeluarkan dari Uni Sovyet. Sozhenitsyn tidak pernah luput dari ancaman, tahun 1971 KBG pernah mencoba membunuhnya dengan racun, tapi tidak berhasil.  

Setelah membaca buku tentang kehidupan Solzhenitsyn yang saya beli 33 tahun yang lalu, saya jadi tertarik untuk membaca hasil karyanya. Saya menemukan Gulag Archipelago di tautan berikut: http://www.thechristianidentityforum.net/downloads/Gulag1.pdfsilakan bagi yang juga tertarik untuk membacanya, cuma bukunya cukup tebal, sekitar 600an halaman.

Can you speak bahasa, sir?

Can you speak bahasa, sir?

Mula-saya agak bingung mendengar pertanyaan seorang kawan pada rekan mitra kerjanya dari luar negeri dalam salah satu pertemuan. Setelah beberapa saat saya baru mengerti, yang dimaksudkan kawan saya itu, apakah mitra kerjanya bisa berbahasa dalam bahasa Indonesia.

Saya sering mendengar orang-orang menyebutkan bahasa Indonesia dengan “bahasa” saja, terutama dalam percakapan dengan orang asing dengan menggunakan bahasa Inggeris, padahal itu dalam bahasa Inggeris artinya language. Jadi kalau ada orang bule yang bicara pada saya “sorry, I cannot speak bahasa”, saya biasanya balas tanya “which bahasa, Turks, Arabic or German? Sorry, I cannot speak those bahasa too”.

Menyingkat bahasa Indonesia dengan “bahasa” saja menurut saya salah kaprah dan campur aduk. Menurut saya, Bahasa Indonesia seharusnya diterjemahkan dalam bahasa Inggeris menjadi Indonesian, sama seperti English untuk bahasa Inggeris, atau Malay untuk Bahasa Melayu/Malaysia, atau German untuk bahasa Jerman. Kebiasaan menggunakan kata “bahasa” untuk bahasa Indonesia, saya kira dimulai dengan orang kita yang berkomunikasi dengan orang asing dalam bahasa Inggeris, dan ini ditiru oleh mereka. Sewaktu bertemu dengan teman lama orang Itali, yang sudah lama tidak jumpa, dia bilang: “sorry I forgot the name of your language, if not mistaken it is called bahasa”, right? Saya langsung jawab: “No, our language is not bahasa, our language is Indonesian”.

Penggunaan istilah “bahasa” untuk bahasa Indonesia bahkan saya temukan dalam dokumen resmi. Dalam salah satu seminar internasional, dimana saya menjadi salah seorang pembicara, lembar isian untuk mengisi biodata antara lain berisi data tentang kemampuan berbahasa. Dalam lembar isian tersebut antara lain tertulis: “Ability to speak, read and write bahasa”. Menurut saya pertanyaan itu belum lengkap karena tidak disebutkan bahasa apa. 


Mulai sekarang, marilah kita menggunakan bahasa Inggeris dengan baik dan benar, sebagaimana kita menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, sesuai konteks dan tidak campur aduk. Apabila kita bertemu dan berkenalan dengan orang dari luar Indonesia, tanyakanlah kepada mereka:  “can you speak Indonesian, sir/madam?” Bagi mereka yang belum tahu bahasa Indonesia, katakanlah kepada mereka dengan bangga: “our language is Indonesian, you should learn Indonesian, and you will find a warm welcome from Indonesian people wherever you go in Indonesia”.

Purwakarta, Minggu pagi, 27 Oktober 2013.

Saturday, October 12, 2013

Jiwa Pejuang

Jangan bayangkan jiwa pejuang itu hanya dimiliki oleh orang-orang tua atau kakek kita yang memanggul bedil memperjuangkan bebasnya bangsa kita dari belenggu penjajah pada jaman kemerdekaan dulu. Jiwa pejuang mestinya juga kita miliki sekarang ini, meskipun kita sudah jauh meninggalkan jaman itu. 

Jiwa pejuang adalah jiwa tanpa pamrih, jiwa ingin berbuat sesuatu untuk negeri ini tanpa terlalu memikirkan apa yang akan didapatkan dari negeri ini. Saya jadi teringat kata-kata mendiang Presiden F. Kennedy: "don't ask what your country can do for you, but ask what you can do for your country". Kata-kata ini selalu diulang-ulang oleh ayah saya untuk mengingatkan agar saya selalu hidup jujur dan lurus.  

Bagaimana keadaannya sekarang? Rasanya jauh panggang dari api. Para pejabat sekarang berlomba-lomba mengumpulkan dan menumpuk kekayaan untuk dirinya sendiri dan keluarganya, serta keturunannya, entah untuk sampai keturunan keberapa. Tapi, apakah yang sudah mereka perbuat untuk negeri ini? Para pengelenggara negara kelihatannya bekerja super sibuk, para wakil rakyat bersidang sampai larut malam, bahkan sambil adu urat leher. Mereka juga bolak-balik berangkat haji dan umrah, dan membagi-bagikan zakat. 

Tapi pada saat yang sama kita mendengar berita tertangkap tangannya orang-orang penting di negeri ini. Orang-orang yang memegang jabatan kunci, bahkan pengawal keadilan. Mereka menumpuk kekayaan yang banyaknya bahkan tidak mampu kita bayangkan. Ada yang punya sembilan mobil mewah yang harga per unitnya bisa belasan milyar rupiah. Bahkan ada bungkusan uang dolar dan rupiah berjumlah milyaran yang ditemukan dalam ember di kamar mandi!

Saya jadi bertanya-tanya, apa yang tersisa dalam lubuk hati orang-orang tersebut. Jangankan jiwa pejuang, hatipun jangan-jangan sudah tidak mereka miliki.


Sunday, July 21, 2013

Memasuki episode kedua

Memasuki episode kedua, tarawih di masjid dekat rumah saya tambah maju. Maksud saya shaf-nya yang maju, tinggal empat baris lebih sedikit. Alhamdulillah, saya masih bisa ikut sholat tarawih bersama. Sholat tarawih yang khusu' karena jamaah tidak terlalu banyak, sehingga dudukpun terasa tumaninah, tidak berdesakan.

Bada' sholat tarawih, ustadz mengingatkan para jamaah bahwa kita sekarang memasuki puasa episode kedua. Setelah episode pertama yang penuh rahmat, maka episode kedua adalah periode ampunan, dan yang ketiga atau yang terakhir nanti adalah episode pembebasan dari panasnya api neraka. Semoga kita bisa melampaui episode-episode kedua dan ketiga ini dengan lancar, dan menutupnya dengan menjadikan kita semua fitri, kembali kepada kesucian. Amin, insya Allah.

Ustadz menerangkan puasa sebagai upaya pengendalian hawa nafsu. Tidak ada ibadah yang bisa mengalahkan hawa nafsu kecuali ibadah puasa. Ketika Allah SWT meminta hawa nafsu untuk menghadap-Nya, dia menolak, kemudian Allah memasukkannya kedalam api neraka yang panas selama seratus tahun. Setelah keluar dari api neraka, hawa nafsu tetap tidak mau menghadap Dia. Allah memasukkannya kedalam neraka yang teramat dingin selama seratus tahun, tapi hawa nafsu tetap tidak mau tunduk pada-Nya. Allah kemudian memasukkannya kedalam neraka kelaparan selama satu tahun. Baru setelah itu hawa nafsu takluk dan memenuhi kehendak-Nya untuk menghadap Allah SWT. 

Ketika peperangan Badar yang hebat usai, Nabi Muhammad SAW mengingatkan para sahabat akan adanya peperangan yang lebih besar lagi, yaitu peperangan melawan hawa nafsu. Hawa nafsu tidak untuk dibatasi atau dihilangkan, karena tanpa hawa nafsu manusia tidak akan kreatif, tapi hawa nafsu perlu dikendalikan. Manusia yang berpuasa tapi tidak bisa mengendalikan hawa nafsunya, hanya lapar dan haus saja yang didapatkannya. Semoga, kita tidak termasuk golongan yang tidak bisa mengendalikan hawa nafsu kita. 

Inilah cuplikan tausiah ustadz yang saya bawa pulang malam ini dari masjid dekat rumah. Semoga ada manfaatnya. 


Thursday, July 11, 2013

Keutamaan orang berpuasa

Tarawih ketiga terasa nikmat, mungkin karena hujan turun rintik-rintik sehingga udara Jakarta yang biasa panas menjadi sejuk dan segar. Terlebih lagi suasana masjid yang agak longgar, padahal tarawih pertama penuh sesak. Mungkin karena hujan turun sejak sore, sehingga banyak jamaah yang tidak datang ke masjid. 

Waktu sholat tarawih, imam memimpin sholat dengan bacaan yang merdu dan dengan lafaz yang jelas dan terang. Meskipun surat yang dibaca panjang-panjang, sholat tarawih terasa benar-benar santai dan tidak terburu-buru. Sholat tarawih akhirnya memang jadi lama, yang biasanya selesai sebelum jam 8, kali ini jam 8 lewat baru rampung.

Mungkin sebagai kompensasi panjangnya sholat tarawih, tausiah yang diberikan ustadz tidak terlalu lama, pendek tapi padat. Dengan menyitir Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki, ulama besar Timur Tengah, yang biasa dipanggil Abuya, ustadz menguraikan keutamaan puasa. 

Sebenarnya ada sepuluh keutamaan puasa sebagaimana ditorehkan Abuya, tapi karena keterbatasan waktu, ustadz menyampaikan tiga dari sepuluh keutamaan puasa tersebut. Diantaranya adalah, disaat puasa Allah memberikan keistimewaan dengan menjadikan setiap aktifitas orang yang berpuasa sebagai ibadah dan ketaatan kepada-Nya, diamnya orang yang berpuasa adalah tasbih, bahkan tidurpun merupakan ibadah. Dan do'anya akan dikabulkan, serta pahalanya akan dilipatgandakan. 

Yang berikutnya, Allah memberikan keistimewaan kepada orang yang berpuasa dengan menjadikan bau mulutnya lebih harum dari minyak kesturi. Tentu saja tidak berarti kita tidak usah menggosok gigi selama bulan puasa, kata ustadz sambil tersenyum. Yang ketiga, Allah memberikan keistimewaan kepada umat yang berpuasa dengan menyediakan satu pintu khusus di surga yang dinamai Al Rayyan.  Itulah pintu khusus yang disediakan bagi umat yang berpuasa. Tentu puasa yang benar, tidak hanya sekedar menahan lapar dan dahaga.

Itulah tausiah singkat yang diberikan ustadz setelah sholat tarawah malam ini. Singkat tapi terasa padat, apalagi disampaikan dengan cara yang santai diselingi dengan gurauan yang mengundang tawa para jamaah.

Semoga kita diberi kesempatan panjang umur dan kesehatan untuk bisa menikmati sholat tarawih di malam-malam berikutnya, insya Allah....

Wednesday, July 10, 2013

Tarawih Pertama

Sholat tarawih pertama di bulan suci Ramadhan selalu meninggalkan kesan tersendiri. Sholat tarawih mengingatkan saya pada sholat-sholat tarawih pada tahun-tahun sebelumnya, dan pada waktu semasa muda dulu. Di kota tempat tinggal saya dulu, saya dan teman-teman selalu sholat tarawih di Masjid Agung, dan pada malam-malam pertama masjid selalu penuh sampai ke halaman. Tapi pada minggu ketiga dan menjelang malam-malam terakhir, makin sedikit makmum yang sholat tarawih di masjid.  Saya kira ini terjadi bukan di tempat saya saja, tapi dimana-mana. Di masa kecil dulu, sholat tarawih selalu membuat saya senang, karena bisa bertemu teman-teman dan biasanya setelah sholat tidak langsung pulang kerumah, tapi keliling dan berkunjung ke rumah teman-teman yang lain. Kenangan masa kecil yang tidak akan terlupakan. 

Tadi malam saya mengikuti sholat tarawih di masjid kompleks di dekat rumah saya. Meskipun tampaknya sama dengan tahun-tahun yang lalu, tetapi tetap saja ada perbedaan, antara lain dengan tidak hadirnya beberapa tetangga yang dulu selalu rajin mengikuti sholat tarawih, karena mereka sudah dipanggil oleh Sang Khalik. Saya bersyukur masih bisa mengikuti sholat tarawih tahun ini, syukur-syukur bisa sampat selesai. Entah kalau tahun depan...

Dalam tausiah setelah sholat tarawih tadi malam, ustadz mengingatkan pentingnya sholat dan puasa. Sholat mengingatkan kita kepada Sang Maha Pencipta, dan puasa mengingatkan kita kepada kaum dhuafa. Dalam bacaan sholat sesudah sujud terakhir, kita membaca tasyahud:

Segala kehormatan, keberkahan, rahmat dan kebaikan adalah milik Allah

Semoga keselamatan, rahmat Allah dan berkah-Nya tetap tercurahkan atasmu, wahai Nabi

Semoga keselamatan tetap terlimpahkan atas kami dan atas hamba-hamba-Nya yang sholeh

Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah

Wahai Allah, limpahkanlah rahmat kepada penghulu kami, Nabi Muhammad, dan kepada keluarga penghulu kami Nabi Muhammad

Sebagaimana telah Engkau limpahkan rahmat kepada penghulu kami Nabi Ibrahim dan kepada keluarganya

Dan limpahkanlah berkah kepada penghulu kami Nabi Muhammad dan kepada keluarganya

Sebagaimana telah Engkau limpahkan berkah kepada penghulu kami Nabi Ibrahim dan kepada keluarganya.

Sungguh, di alam semesta ini, Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia, wahai Zat yang Menggerakkan Hati, tetapkanlah hatiku pada agama-MU. 

Semoga keselamatan dan rahmat Allah dilimpahkan kepadamu (menengok kekanan kemudian kekiri).

Sungguh indah bacaan sholat.

Selamat berpuasa....